Showing posts with label sejarah tanah karo. Show all posts
Showing posts with label sejarah tanah karo. Show all posts

Tuesday, May 29, 2012

Sejarah Marga Tarigan

Merga Tarigan Ada cerita lisan (Darwin Prinst, SH. Legenda Merga Tarigan dalam bulletin KAMKA No. 010/Maret 1978 ) yang menyebutkan merga Tarigan ini tadinya berdiam di sebuah Gunung, yang berubah mejadi Danau Toba sekarang. Mereka disebut sebagai bangsa Umang. Pada suatu hari, isteri manusia umang Tarigan ini melahirkan sangat banyak mengeluarkan darah. Darah ini, tiba-tiba menjadi kabut dan kemudian jadilah sebuah danau. Cerita ini menggambarkan terjadinya Danau Toba dan migrasi orang Tarigan dari daerah tersebut ke Purba Tua, Cingkes, dan Tongtong Batu. Tiga orang keturunan merga Tarigan kemudian sampai ke Tongging yang waktu itu diserang oleh burung Sigurda-Gurda berkepala tujuh. Untuk itu Tarigan memasang seorang anak gadis menjadi umpan guna membunuh manok Sigurda-gurda tersebut.
Sementara di bawah gadis itu digali lobang tempat sebagai benteng merga Tarigan. Ketika burung Sigurda-gurda datang dan hendak menerkam anak gadis itu, maka Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menyumpit (eltep) kepala burung garuda itu. Enam kepala kena sumpit, akan tetapi satu kepala tesembunyi di balik dahan kayu. Salah seorang merga Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menusuk kepala itu dengan pisau. Maksud cerita ini mungkin sekali, bahwa pada waktu itu sedang terjadi peperangan, atau penculikan anak-anak gadis di Tongging. Pengulu Tongging merga Ginting Manik lalu minta bantuan kepada merga Tarigan untuk mengalahkan musuhnya tersebut
Beberapa generasi setelah kejadian ini, tiga orang keturunan merga Tarigan ini diberi nama menurut keahliannya masing-masing, yakni ; Tarigan Pertendong (ahli telepati), Pengeltep (ahli menyumpit) dan Pernangkih-nangkih (ahli panjat). Tarigan pengeltep kawin dengan beru Ginting Manik. Diadakanlah pembagian wilayah antara penghulu Tongging dengan Tarigan Pengeltep. Tarigan menyumpitkan eltepnya sampai ke Tongtong Batu. Tarigan lalu pergi kesana, dan itulah sebabnya pendiri kampung (Simantek Kuta) di Sidikalang dan sekitarnya adalah Tarigan (Gersang). Tarigan Pertendong dan Tarigan Pernangkih-nangkih tinggal di Tongging dan keturunannya kemudian mejadi Tarigan Purba, Sibero, dan Cingkes, baik yang di Toba maupun yang di Simalungun. Beberapa generasi kemudian berangkatlah dua orang Merga Tarigan dari Tongtong Batu ke Juhar, yang kemudian di Juhar dikenal sebagai Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng. Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan). Sementara nama rurun Tarigan Jambor Lateng adalah Lumbung (laki-laki) dan Tarik (perempuan). Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan Dombat (wanita).
Adapun cabang-cabang dari merga Tarigan ini adalah sebagai berikut :
  • Tarigan Tua kampong asalnya di Purba Tua dekat Cingkes dan Pergendangen
  • Tarigan Bondong di Lingga
  • Tarigan Jampang di Pergendangen
  • Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Beras Tepu
  • Tarigan Cingkes di Cingkes
  • Tarigan Gana-gana di Batu Karang ;
  • Tarigan Peken di Sukanalu dan Namo Enggang
  • Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu
  • Tarigan Purba di Purba
  • Tarigan Sibero di Juhar, Kuta Raja, Keriahen Munte, Tanjong Beringen, Selakar, dan Lingga
  • Tarigan Silangit di Gunung Meriah (Deli Serdang)
  • Tarigan Kerendam di Kuala, Pulo Berayan dan sebagian pindah ke Siak dan menjadi Sultan disana
  • Tarign Tegur di Suka
  • Tarigan Tambun di Rakut Besi dan Binangara
  • Tarigan Sahing di Sinaman

Sejarah Marga Perangin-angin

Marga Perangin-angin merupakan salah satu marga yang terdapat dalam suku karo. Merga Perangin-angin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :
  • Peranginangin Sukatendeli Menurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :
    • Peranginangin Kuta Buloh Mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.
    • Peranginangin Jombor Beringen Merga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.
    • Peranginangin Jenabun Merga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.
  • Peranginangin Kacinambun Menurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.
  • Peranginangin Bangun Alkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang.
    Merga ini juga pecah menjadi :
    • Keliat Menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.
    • Beliter Di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.
  • Peranginangin Mano Peranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.
  • Peranginangin Pinem Nenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak.
  • Sebayang Nenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas.
  • Peranginangin Laksa Menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.
  • Peranginangin Penggarun Penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.
  • Peranginangin Uwir
  • Peranginangin Sinurat Menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.
  • Peranginangin Pincawan Nama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.
  • Peranginangin Singarimbun Peranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.
  • Peranginangin Limbeng Peranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo.
  • Peranginangin Prasi Merga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

Monday, May 28, 2012

Asal-Usul Marga Karo-Karo

Merga Karo-Karo merupakan salah satu merga/marga yang ada di suku karo yang terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
  • Karo-Karo Purba Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
    Dari isteri umang lahirlah merga-merga :
    • Purba Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
    • Ketaren Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
    • Sinukaban Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..
    Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :
    • Karo-Karo Sekali Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
    • Sinuraya/Sinuhaji Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
    • Jong/Kemit Merga ini mendirikan kampung Mulawari.
    • Samura
    • Karo-Karo Bukit
    Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.
  • Karo-Karo Sinulingga Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
    Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :
    • Kaban Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
    • Kacaribu Merga ini medirikan kampung Kacaribu.
    • Surbakti Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.
    Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.
  • Karo-Karo Kaban Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
  • Karo-Karo Sitepu Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
  • Karo-Karo Barus Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.

  • Karo-Karo Manik Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.

Asal-usul Marga Ginting

 Merga Ginting merupakan salah satu marga yang ada pada suku karo.Merga Ginting terbagi pula menjadi sub-sub merga, terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :
  • Ginting Pase Ginting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase. (Petra : Bisa dibaca di sini)
  • Ginting Munthe Menurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.
  • Ginting Manik Ginting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.
  • Ginting Sinusinga
  • Ginting Seragih Menurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.
  • Ginting Sini Suka Menurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :
    • Ginting Babo
    • Ginting Sugihen
    • Ginting Guru Patih
    • Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)
    • Ginting Beras
    • Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)
    • Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
    • Ginting Ajar Tambun
    • Ginting Jadi Bata
    Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.
  • Ginting Jawak Menurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.
  • Ginting Tumangger Marga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor.
  • Ginting Capah Capah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo.

Monday, January 30, 2012

Surat Wakil Presiden Indonesia Kepada Rakyak Karo

Bukittinggi, 1 Januari 1948
“Kepada Rakyat Tanah Karo Yang Kuncintai”.
Merdeka!
Dari jauh kami memperhatikan perjuangan Saudara-saudara yang begitu hebat untuk mempertahankan tanah tumpah darah kita yang suci dari serangan musuh. Kami sedih merasakan penderitaan Saudara-saudara yang rumah dan kampung halaman habis terbakar dan musuh melebarkan daerah perampasan secara ganas, sekalipun cease fire sudah diperintahkan oleh Dewan Keamanan UNO.
Tetapi sebaliknya kami merasa bangga dengan rakyat yang begitu sudi berkorban untuk mempertahankan cita-cita kemerdekaan kita.
Saya bangga dengan pemuda Karo yang berjuang membela tanah air sebagai putra Indonesia sejati. Rumah yang terbakar, boleh didirikan kembali, kampung yang hancur dapat dibangun lagi, tetapi kehormatan bangsa kalau hilang susah menimbulkannya. Dan sangat benar pendirian Saudara-saudara, biar habis segala-galanya asal kehormatan bangsa terpelihara dan cita-cita kemerdekaan tetap dibela sampai saat yang penghabisan. Demikian pulalah tekad Rakyat Indonesia seluruhnya. Rakyat yang begitu tekadnya tidak akan tenggelam, malahan pasti akan mencapai kemenangan cita-citanya.
Di atas kampung halaman saudara-saudara yang hangus akan bersinar kemudian cahaya kemerdekaan Indonesia dan akan tumbuh kelak bibit kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Karo, sebagai bagian dari pada Rakyat Indonesia yang satu yang tak dapat dibagi-bagi.
Kami sudahi pujian dan berterima kasih kami kepada Saudara-saudara dengan semboyan kita yang jitu itu: “Sekali Merdeka Tetap Merdeka”.
Saudaramu,
MOHAMMAD HATTA
Wakil Presiden Republik Indonesia

Monday, January 23, 2012

MENGANGKAT TULANG-TULANG, CARA ORANG KARO MENGHORMATI LELUHURNYA

     Orang Karo sangat beradat dan menghargai leluhur sehingga secara khusus memilki kebudayaan mengumpulkan kembali tulang-tulang leluhur yang telah lama meningal dunia. Cara ini dikenal dengan Nampeken TULAN-TULAN (Nampeken = mengambil dalam arti mengumpulkan kembali , Tulan-tulan = Tulang/ skeletons). Dalam bahasa sederhananya dikatakan MUAT TULAN-TULAN (MUAT= MENGUMPULKAN). Muat tulan-tulan  merupakan satu dari sekian banyak upacara adat karo,sebagai wujut penghormatan kepada orang tua dan leluhur.
Tulan-tulan/ Tulang-tulang (sumber SAPOHOLLAND FB Group)                

    Biasanya acara seperti ini dilakukan di JAMBUR.  Jambur adalah Rumah tempat penyelengaraan kegiatan adat suku Karo yang lebih besar dari sebuah pesta perkawinan. Bayangkan saja sejumlah anak beranak empat hingga lima keturunan berkumpul bersama untuk mengujutkan acara ini.
Pengumpulan tulan-tulan (SAPO HOLLAND FB GROUP)                                                      
Dalam sebuah kesempatan:  Ade Fani Ketaren, menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan adat budaya KARO ini. Yang bertugas mengali kuburan adalah anakberu,semua tulang2 yang di ambil lalu di cuci bersih,lalu di mandikan dengan lau penguras (air yang dibuat khusus untuk acara ini) yang  dibuat dari ramuan jeruk purut, air kelapa muda dan beberapa rempah lain.Lalu setelah bersih dan di mandikan dengan lau penguras, maka tulang belulang di susun sedamikina rupa dan dibacakan doa-doa. Kemudian di bungkus dengan dagangen (kain putih) lalu di sumpitken (dibungkus sedemikian rupa). Kemudian tulang-tulang tersebut di bawa kerumah sambil menunggu prosesi saudara yang lain selesai.
     Namun belakangan ini  yg bertugas mengali kuburan sekarang sudah mengunakan aron/pekerja yang diminta khusus dan dibayar. Lihat gambar, laki-laki yang jongkok di sebelah kiri itu anak beru “bayaran” istilahnya. Setelah semua tulang belulang sodara2 yang lain terkumpul, maka tulang belulan di masukkan dalam peti kecil dan masing-masing peti di buat nama yang bersangkutan, lalu di adakan acara adat namanya ngampeken tulan-tulan yang biasanya di adakan di jambur. Acara ini biasanya di hadiri oleh seluruh keluarga yang bersangkutan,dan biasanya y hadir sangat banyak lebih banyak dari pesta perkawinan dan adat kematian. Setelah prosesi adat selesai maka tulan-tulan tadi semua dimasukkan ke dalam sau bangunan yang di sebut Geriten (bangunan khusus yang digunakan sebagai tempat mengumpulkan tulang-tulang tersebut).
Kegiatan ini masih terkait dengan keyakinan lama orang Karo dan masih terjaga dengan baik hingga saat ini walaupun acaranya sudah diubah dengan kegiatan yang menggunakan religi yang modern sesuai perkembangan  keyakinan. Kegiatan ini tentunya membutuhkan kerjasama, kesepakatan dan dana yang cukup besar, sehingga ini dapat menjadi salah satu indikator bahwa orang Karo telah memiliki BUDAYA yang tinggi dan menjaga NILAI KEMANUSIAAN HINGGA KELELUHURNYA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA.

Monday, January 16, 2012

Kiras Bangun ( Gara Mata), Pahlawan Nasional dari Desa Batukarang

Legenda Garamata/ Kiras Bangun

Peranan Kiras Bangun/ Garamata di Tengah Masyarakat Karo
Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik. Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”. Masa mudanya ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik.
Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri/otonomi. Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat. Tidak jarang pula terjadi sengketa antar Urung dan antar Kampung dengan motif berbagai macam persoalan.
Pihak-pihak yang bertikai, acap kali mengundang Garamata turut memecahkan persoalan. Dengan sikap jujur, berani dan bertanggung jawab Garamata bertindak tegas tetapi arif dan bijaksana, berlandaskan semboyan “Rakut Sitelu” (Kalimbubu, Sembuyak dan Anakberu) yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bertindak beliau selalu berpegang teguh pada prinsip membenarkan yang benar, tidak berpihak, menyebabkan berbagai sengketa dapat diredakan secara damai yang memuaskan semua pihak. Simpati masyarakat tidak terbatas dikawasan Tanaha Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang. Hubungan dengan daerah–daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih-lebih kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara terhadap penjajah Belanda, dikagumi dan dipantau secara berlanjut.
Latar Belakang Ekspansi Belanda ke Tanah Karo
Pada tahun 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai membuka perkebunan tembakau dan karet. Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami.
Tanah Karo telah diketahui Belanda karena kerbau sebagai penarik kereta keperluan perkebunan diperoleh dari Tanah Karo. Disamping itu Binjai pada waktu itu telah menjadi kota yang didiami tuan-tuan kebun Belanda dimana banyak didatangi orang-orang Karo dari Karo Tinggi dan ada diantaranya yang bekerja sebagai pekerja kebun maupun mandor.
Kepopuleran Kiras Bangun/ Garamata telah diketahui oleh Belanda dari penduduk Langkat dan lebih jelas lagi dari Nimbang Bangun yang masih ada ikatan keluarga dengannya. Untuk itu timbul keinginan Belanda menjalin persahabatan dengan Garamata agar dibenarkan memasuki Tanah Karo guna membuka usaha perkebunan. Persetujuan Garamata atas kedatangan Belanda akan diberi imbalan uang, pangkat dan senjata.
Tawaran Belanda demikian mengandung maksud-maksud tersembunyi yang sukar ditebak apalagi Tanah Karo tidaklah cukup luas untuk jadi perkebunan.
Timbulnya Permusuhan dengan Belanda
Utusan Belanda Nimbang Bangun telah bolak-balik dari Binjai ke Tanah Karo namun keinginan Belanda memasuki Tanah Karo tetap ditolak. Keputusan ini diambil setelah dilakukan musyawarah dengan raja-raja Tokoh Karo sebagai berikut:
Keinginan Belanda untuk bersahabat dengan rakyat Karo dapat diterima asal saling menghargai dan menghormati.
Keinginan Belanda untuk memasuki Tanah Karo ditolak. Belanda tidak perlu campur dalam soal pemerintahan di Tanah Karo sebab rakyat Karo selama ini sudah dapat mengatur diri sendiri menurut peradatannya sendiri.
Keinginan Belanda masuk Tanah Karo diwujudkan pada tahun 1902, dengan mengirim Guillaume bersama sejumlah serdadu Belanda sebagai pengawalnya ke Tanah Karo setelah sebelumnya mendapat izin dari salah seorang Kepala Urung lain.
Garamata memberikan beberapa kali peringatan untuk meninggalkan Tanah Karo tetapi Guillaume tidak mau berangkat. Kemudian Garamata bekerja sama dengan beberapa Urung berhasil mengusir Guillaume, setelah 3 bulan bermukim di Kabanjahe.
Sejak pengusiran itu timbullah puncak permusuhan dengan Belanda.
Menggalang Kekuatan
Perkembangan situasi yang sudah menegang disampaikan kepada tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan sebagai daerah tetangga yang sehaluan. Kemudian Garamata menugaskan beberapa orang untuk mengetahui informasi tentang keinginan Belanda ke Tanah Karo dengan dalih membuka perkebunan, yang merupakan tindakan memaksakan kehendaknya. Dari tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ini diperoleh jawaban akan membantu Garamata.
Situasi yang berkembang di Tanah Karo sudah semakin memanas semenjak Guillaume dan sejumlah pengawalnya bersenjata lengkap menduduki Kabanjahe. Garamata dan pengikutnya berupaya untuk menghimpun segenap kekuatan. Pertemuan Urung/Rapat pimpinan merupakan satu-satunya sarana yang paling mudah untuk menyampaikan berbagai macam situasi kepada segenap tokoh Urung/Pasukan Urung serta melaksanakan rencana-rencana.
Melalui pertemuan Urung, Garamata dalam pengarahannya membentuk pasukan Urung dan mengadakan benteng pertahanan di tiap-tiap Urung. Persenjataan pasukan Urung terdiri dari pedang, parang, tombak, dan senapan (dalam jumlah terbatas) yang tersedia di Urung masing-masing. Dengan demikian upaya menghimpun kekuatan, mengobarkan semangat perlawanan gigih dan bersatu sembari kewaspadaan tidak dilengahkan merupakan tekad Garamata dan pengikut-pengikutnya yang setia.
Kenyataan membuktikan bahwa pertemuan Urung di Tiga Jeraya mampu mengerahkan ribuan orang pria dan wanita mengangkat “Sumpah setia melawan Belanda” yang pengucapannya dilakukan secara serempak yang menggemuruh. Pertemuan Urung dilakukan sebanyak 6 kali dan yang terbesar pertemuan Jeraya Surbakti.
Intervensi Belanda di Seberaya Membangkitkan Kemarahan Garamata
Pada tahun 1904 serdadu ekspedisi Belanda datang dari Aceh melalui Gayo Alas dan Dairi menuju Medan. Dalam perjalanannya ke Medan melalui Tanah Karo, pasukan tersebut memasuki kampung Seberaya dimana saat itu terjadi perang saudara. Dalam perjalanan pasukan Belanda mampir di kampung Sukajulu terjadi pertempuran dengan pasukan Simbisa Urung dan pasukan Urung tewas 20 orang.
Perisitiwa berdarah di beberapa tempat merupakan petunjuk bagi tokoh Karo bahwa Belanda telah mulai menginjak-injak kedaulatan rakyat Karo. Kecurigaan Garamata demikian terbukti bahwa maksud kedatangan Belanda ke Tanah Karo adalah menjajah seperti di Langkat. Garamata memastikan bahwa perang pasti terjadi dan karena itu menugaskan beberapa orang ke Alas dan Gayo memperoleh bantuan sebagaimana disepakati setahun lalu.
Batukarang Jatuh
Karena kedudukan musuh di Kabanjahe maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum Garamata kepada Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu pengawalnya sudah diperkuat lagi dari sebelumnya.
Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang petuem yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa/Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan lawan.
Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan LIngga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Sementara benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, (15/9/1904) dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
Negeri sebagai tempat menyingkir Garamata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting isitri Garamata menderita luka tembak sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Liren dan Sekitarnya Jadi Basis Perlawanan
Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan.
Dijelaskan bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Sebagai daerah penyingkiran semua rencana diatur dari basis ini baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya.
Perang Gerilya
Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto: “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” (namo=lubuk, aras=arus air yang deras). Artinya sekarang kita kalah, besok kita menang.
Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah.
Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda.
Opportinuteits Beginsiel
Pendudukan Belanda atas Batuk arang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun usaha yang diupayakan untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu/tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat korban lebih banyak maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan sehingga pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir Belanda.
Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun.

Guru Patimpus, Pendiri Kota Medan

Guru Patimpus adalah seorang Karo bermarga Sembiring Pelawi. Guru Patimpus dikenal sebagai pendiri Kota Medan. Berikut adalah sejarah singkat Perjalanan Guru Patimpus yang berasal dari daerah dataran tinggi Karo, hingga akhirnya mendirikan desa yang bernama Medan:

Di Monumen Guru Patimpus Tertulis Jelas Marga Sembiring Pelawi dan Bukan Marga Lain


Guru Pa Timpus dilahirkan di Aji Jahe salah satu kampung di Taneh Karo Simalem yang sejuk, dingin, nyaman dengan angin pegunungannya. Ia menikah di Batu Karang dengan beru Bangun, mendirikan kampung di Perbaji dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Bagelit. Guru Pa Timpus bertubuh kekar, tinggi, gagah, dan berjiwa patriotik seperti seorang panglima. Ia juga seorang Guru, yang dalam bahasa Karo berarti seorang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, ilmu obat-obatan, ilmu gaib, dan memiliki kesaktian, namun Ia-nya berjiwa penuh kemanusiaan lemah lembut dalam bertutur kata, mempunyai karakteristik yang simpatik, berwibawa, berjiwa besar dan pemberani.
Dengan menuruni lembah-lembah yang penuh mistis, hutan semak belukar dan binatang buas, ia mendaki lembah-lembah yang terjal dan curam, dengan menelusuri aliran Lau Petani menuju ke satu bandar di hilir sungai Deli untuk suatu tujuan yaitu mencoba ilmu kesaktiannya dan belajar pada Datuk Kota Bangun seorang Guru dan Ulama besar yang terkenal pada masa itu.
Setelah beberapa lama bermukim ia kawin dengan seorang putri dari pulau Brayan keturunan anak panglima Deli, bermarga Tarigan dan sekitar tahun 1590 M, ia membuka dan mendirikan kampung dipertemuan dua buah sungai Deli dan Babura yang dinamainya dengan ‘Medan’, dari perkawinannya ini lahirlah salah seorang putra yang diberinya nama Hafis Muda, dari sinilah silsilah keturunan Datuk Wajir Urung 12 Kuta (Datuk Hamparan Perak), keturunan terakhir dari Generasi ke-XV adalah Datuk Adil Freddy Haberham, SE sebagai salah seorang Datuk 4 suku dikesultanan Deli.
Guru Pa Timpus telah menjadi milik Masyarakat Kota Medan. Ia berjiwa Nasionalis dibuktikan dengan tidak dicantumkannya Marga Sembiring Pelawi pada Dirinya dan Anak Cucu Keturunannya.
Pemko Medan telah memberikan penghargaan terhadap Guru Pa Timpus, yaitu dengan ditetapkannya Hari Jadi Kota Medan pada tanggal 1 Juli 1590 dan kemudian memberikan nama kepada salah satu jalan di petisah dengan nama jalan Guru Pa Timpus.
Apa yang telah dilakukan Guru Pa Timpus adalah merupakan salah satu sejarah bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya, corak dan peninggalan sejarahnya telah memberikan warna khas kepada kebudayaan bangsa, serta hasil pembangunan yang mengandung nilai perjuangan, kepeloporan yang merupakan kebanggaan nasional ini, perlu terus digali dan dilestarikan, dipelihara, serta dibina untuk memupuk semangat perjuangan dan cinta tanah air. Perencanaan Pembangunan disemua tingkatan haruslah diperhatikan pelestariannya, apalagi pelestarian bangunan benda yang mengandung nilai sejarah bertitik tolak dari keagungan Jiwa Guru Pa Timpus.

Harga Diri, Dibayar Darah

Belajar pada masa lalu itu bijak, agar kita sadar bahwa kita adalah produk dari sebuah masyarakat yang berjalan, produk dari sebuah budaya itu sendiri dan dipengaruhi oleh waktu yang melaju bersama interaksi dengan masyarakat luar lainnya. Dan ketika menemukan kabar lama yang menyakitkan, kita harus mampu berucap :
"Horeee... aku menemukan akar penyebab penyakit di kekinian."
Berikut kabar lalu tentang masyarakat Karo yang katanya : "Selain beradat, suka menolong, hemat, dan pengasih, mereka juga pendendam dan tahu harga diri".


13 Agustus 1988
Tempointeraktif.com
Umbul-umbul, dipacangkan di sebuah lapangan, di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Itulah pertanda akan berlangsung pertarungan dua laki-laki. Penduduk membentuk lingkaran, menonton kedua pria yang siap turun berlaga dengan tangan kirinya terikat seutas tali satu sama lain. Lali, seorang pengetua adat, setelah berpidato singkat, menyerahkan pisau kepada kedua jagoan. dengan pisau di tangan, keduanya mengangkat sumpah : "Pinter bilang ku Dibata" (lurus perhitungan kepada Tuhan). Artinya, cuma Tuhan yang tahu, siapa yang benar di antara mereka. Setelah aba-aba pertarungan dimulai, tikam menikam pun terjadi.

"Biasanya," kata Moderamen (pucuk pimpinan) Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Ds. A. Ginting Suka, "seseorang dari mereka mati". Dan penonton mempercayai, yang bersalah adalah yang mati.

"Jika keduanya tewas, maka keduanya memang dianggap bersalah," kata P. Antonius Sitepu, dosen Fisipol Universitas Sum-Ut (USU), kepada TEMPO. Duel maut semacam itu, secar adat, pernah menjadi pilihan terakhir untuk menyelesaikan perselisihan. Ini ditempuh jika musyawarah keluarga, kerabat, dan lembaga adat tidak mampu mendamaikannya. Pembunuhan terjadi, kata Ginting Suka, biasanya karena harga diri seseorang tersinggung.

Upacara Sar-sar Lambe, duel untuk mencari yang bersalah tersebut, telah dihapus sejak zaman Belanda. Pemancangan umbul-umbul di lapangan untuk mengadili "siapa yang salah dan benar" dengan duel maut semacam itu juga sudah tidak ada lagi. Namun, mengutip kesimpulan Seminar Adat-Istiadat Karo awal 1977, masyarakat di kabupaten itu agaknya punya sifat menonjol: "Selain beradat, suka menolong, hemat, dan pengasih, mereka juga pendendam dan tahu harga diri".

Sunday, January 15, 2012

Tembut-tembut Seberaya

Tembut-tembut Seberaya

 Hai, Teman-teman, Kenal gak dengan salah satu seni pertunjukan tradisional Batak karo ini? ya, seni pertunjukan tradisional ini kerap digunakan dengan nama “gundala-gundala” karo atau Lingga (Desa Lingga). Tembut-Tembut Seberaya diciptakan oleh Pirei Sembiring Depari yang lahir antara tahun 1856 atau 1886 di keluarga yang sudah mempunyai jiwa seni. Dia terlahir sebagai seorang seniman dan seorang pandai besi (pembuat tumbuk lada) yang berbakat. Pada tahun 1918 hiasannya terhadap tumbuk lada (senjata tradisional Batak Karo, mempunyai maksud yang sama dengan Keris dari jawa) dirasakan sangat unik dan istimewa oleh pemerintahan kolonial Belanda. Dari hal tersebut, Belanda membawanya ikut ke Betawi untuk berpartisipasi pada ajang kejuaraan pahat nasional dan hasil pertandingan tersebut diraihnya dengan mendapat juara 2 nasional dari pemerintah kolonial Belanda sebagai pemahat dengan ukiran terbaik setelah Bali. Apresiasi diberikan oleh pemerintahan kolonial Belanda berupa uang dan medali sebagai hadiah. Sepulang dari Betawi, Pirei Sembiring Depari menciptakan seni pertunjukkan tembut-tembut dengan awal maksud hanyalah sebagai hiburan masyarakat semata namun tetap dilatarbelakangi bekal petualangan Pirei ke beberapa pelosok desa. tembut-tembut berasal dari kata “nembut-nembuti yang artinya Menakut-nakuti orang yang ingin berbuat niat jahat. Kini keberadaan Tembut-tembut seberaya, sangat memprihatinkan. Duplikasi Tembut-Tembut semakin menjadi-jadi, para pemilik modal dengan gampangnya membuat topeng yang mirip dengan topeng ini. alhasil, yang paling terkenal saat ini malahan bukan Tembut-Tembut-nya tetapi Gundala-Gundala yang dibuat dari desa lain (lingga). dengan kata lain, Tembut-tembut sedang mengalami pergeseran arus bawah yang sangat kuat. Apa yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten karo dalam menghadapi situasi yang memprihatinkan ini? sangat ironi, mereka malah membuat duplikasi yang baru. Sekarang tembut-tembut seberaya tidak lagi pernah digunakan dalam berbagai macam festival budaya, kata penjaga Museum Lingga kepada penulis “Tembut-tembut seberaya sudah ada di ambang kepunahan, begitu kata dinas kebudayaan karo kepada saya, waktu saya mementaskan gundala-gundala”.
Penulis tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh budayawan Lingga ini. ke-esokan harinya, penulis mendatangi langsung departemen kebudayaan dan pariwisata kabupaten karo. tak diduga, mereka malah mengusulkan untuk tidak membahas ini dalam penelitian yang saya sedang kerjakan tersebut, mereka mengusulkan untuk mengambil permasalahan di seputar Berastagi saja. Wah, Ironi… Ironi, dengan tegas dan bersuara nyaring mereka mengatakan ” eh, biar kau tau aja, gak ada namanya tembut-tembut di tanah karo ini, yang ada hanya gundala-gundala lingga”. Jujur,peneliti sangat syok. apa yang terjadi? mengapa sepertinya mereka panik ketika saya berusaha meneliti ini? apa keuntungan yang mereka dapatkan? mengapa mereka tidak mendukung penelitian saya? dan berbagai pertanyaan lain muncul di benak saya pada saat itu.
saya berusaha menepis pandangan negatif yang disampaikan kepada saya oleh pemerintah kabupaten karo, dan berusaha mencari kepastian yang nyata. esoknya saya mengunjungi Desa Seberaya, kurang lebih 30 menit dari kota Berastagi–berusaha menjumpai sang empu-nya tembut-tembut seberaya. dengan ramah, penjaga tembut tembut seberaya menerima saya dengan tangan terbuka. peneliti menceritakan maksud kedatangan dan kisah-kisah yang dialami pada saat mencari data tentang seni pertunjukan ini. sedari tersenyum, paman tersebut menceritakan, tahun 2004 tembut-tembut ini diberangkatkan secara eksklusif ke 11 negara di dataran eropa bersama seni tari tradisional khas indonesia lainnya. pada saat itu Pihak dari Eropa meminta yang Asli bukan duplikasi-nya, yah tau saja bagaimana kualitas Eropa (mereka tidak mau the fake serial). sekarang ini kualitas standar Eropa tersebut telah mengalami masa transisi yang sangat pahit. pelaku budaya sedikit nyeletuk, “yah… hahaha… departemen pariwisata kabupaten karo–sengaja mereka tempah tembut-tembutnya sendiri–biar dapat pemasukan lah–makanya sekarang omset tembut-tembut seberaya lagi turun–semua proyek mereka yang ambil–sebentar lagi kayanya mereka mau buat–supaya tembut-tembut mereka itu di cap yang asli– ah.. terserah mereka lah”.
mungkin anda dapat menyimpulkan penelitian ini.

















Video Tembut-tembut Seberaya

Tuesday, May 10, 2011

Sinabung Jaya, kisahmu dulu dan kini


Foto kenderaan  roda mati tahun 30 (tiga puluhan), yang pada waktu itu disebut “motor kitik” oleh masyarakat Karo di Dataran Tinggi Karo.  
Foto Bus  PMG (Perusahaan Motor Gunung) nomor lambung 150 tahun 1957 merek  GMC buatan Amerika Serikat BK. 15076 yang menjalani trayek Kabanjahe – Medan, cikal bakal PO. Sinabung Jaya dikemuidan hari.
Foto Alm.Drs.  Kueteh Sembiring Gurukinayan, Penggagas  Merk “ Sinabung Jaya”
Anak Sulung Alm. Reti Sembiring Gurukinayan & Almh. Releng br Sitepu

Foto ketika jasad Almarhum Reti Sembiring Gurukinayan di bawa ke Jambur desa Gurukinayan (gedung pertemuan) padaa tanggal 23 September 1964, dimana jasadnya dalam posisi “duduk” dalam peti yang dibuat secara khusus oleh “anak beru” Posisi duduk tersebut atas permintaan Anak Beru maupun keluarga lainnya karena semasa hidupnya keluarga menganngap mempunyai charisma yang dapat mempersatukan seluruh keluarga tanpa melihata statusnya ekonominya. Oleh sebab itu menurut mereka agar kharismanya dapat diturunkan kepada anak-anaknya (bukan istri dan anak-anaknya) maka harus dikuburkan dalam posisi duduk. Kenyataannya, charisma tersebut turun kepada anak sulungnya Kueteh Sembirng Gurukinayan yang cukup dikenal pada tahun 1965 sampai awal pemili tahun 1971.
Foto PO. Sinabung Jaya nomor 7 trayek Kabanjahe _ Medan PP, merk Chevrolet tahun 1961 sebagai mobil pengganti dari mobil sedan Plymouth tahun 1956 ayahanda Almarhum Reti Sembiring Gurukinayan, dari kiri berdiri Ibunda Goto br Sitepu yang sekarang sudah berumur 91 tahun dan sebelahnya ibunda Almarhumah Releng br Sitepu. Foto diambil didepan rumah ayahanda Almarhum Rekat Sembiring di Gurukinayan pada tanggal 21 Nopember 1970, beberapa hari sebelum Kincar Emanuel Sembiring Gurukinayan ( berdiri sebelah kiri) dan Rophian Sembiring Gurukinayan (ketiga di belakang) melanjutkan kuliah ke Yogyakarta.

Foto PO. Sinabung Jaya nomor 10, BK. 39013 trayek Gurukinayan – Medan PP, merk Chevrolet tahun 1961 di Parik Lau (sungai) Gurukinayan.Dibelakang terlihat Almarhum Buyung sedang mencuci busnys.Didepan (sesuai arah jam) tampak Rophian Sembiring Gurukinayan, Bania Fonta Singarimbun dan anak Almarhum Tabas Surbakti: Dalton Surbakti dan Asa Surbakti.

Foto armada bus Po. Sinabung Jaya   tahun 2006

Perjalanan PO. Sinabung Jaya ternyata panjang dan berliku-liku, berikut ini kisahnya yang disunting dari laman Bus Sinabung Jaya :

1. TAHUN 1904
Perusahaan Otobus PO. Sinabung Jaya yang beralamat di Jl. Veteran Gang Usaha Tani, Berastagi, Kabupaten Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara mulai dirintis oleh Reti Sembiring Gurukinayan yang dilahirkan pada tahun 1904 di kampung Gurukinayan yang letaknya persis di bawah Gunung Sinabung, kecamatan Payung, Kabupaten Tanah Karo.  Mempersunting seorang gadis bernama Releng br Sitepu anak saudara dekat dari ibunya yang berasal dari kampung Berastepu dan dikaruniai 10 (sepuluh)  anak yang terdiri dari 7 (tujuh) anak pria dan 3 (tiga) anak perempuan.

Reti Sembiring Gurukinayan adalah seorang anak sulung dari keluarga petani yang ayahnya bernama Ngupahi Sembiring Gurukinayan yang beristrikan Peraten br Sitepu yang kebetulan juga berasal dari kampung Berastepu yang lokasinya bertetangga dengan kampung Gurukinayan, yang dikarunia 3 (tiga) orang anak yaitu Reti  Sembiring Gurukinayan, Bantamuli br Sembiring Gurukinayan dan Rekat Sembiring Guruki-nayan.

Dibesarkan dan dididik di keluarga petani, bukan berarti Reti Sembiring Gurukinayan ingin menjadi petani walaupun tanah ladang dan sawah yang akan diwariskan oleh ayahnya kelak cukup untuk menghidupi keluarganya di kemudian hari, beliau mempunya cita-cita lain untuk masa depannya. Walaupun tidak pernah mengikuti pendidikan formal di bangku pendidikan sekolah rakyat (sekolah dasar) atas kemauan keras untuk mewujudkan cita-citanya secara otodidak akhirnya dimasa remajanya dapat membaca, menulis dan berhitung.

2. TAHUN 1915
Dalam masa pertumbuhan remajanya beliau ketika berumur 11 tahun telah meninggalkan kampung Gurukinayan menjadi kernek bus di kampung Batukarang, karena tokehnya atau pemilik bus bernama Atol Bangun berdomisili di kampung tersebut. Reti Sembiring Gurkinayan mempunyai cita- cita agar dikemudian hari beliau ingin memiliki armada bus walaupun pada saat itu hanyalah sebagai kernek bus ban mati / roda mati diawal tahun 1915. Beliau sadar bahwa untuk dapat memiliki armada bus sendiri tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan panjang serta harus memiliki tekad yang kuat, mau bekerja keras, disiplin dan juga hemat. 

Pada waktu itu tidak semua yang menjadi kernek bus/ truk otomatis dikemudian hari akan  dapat  menjadi  seorang  supir.  Peningkatan kariernya  tidak  akan pernah tercapai apabila tidak dapat mengambil hati supirnya yang mempunyai otoritas cukup besar untuk menentukan siapa yang layak sebagai kerneknya dalam mengoperasikan bus / truk  yang   dipercayakan oleh pemiliknya (majikannya) Kalau  sang  kernek  tidak  rajin  dan  tekun  serta disiplin dan gigih maka kemungkinan besar sang kernek dapat diberhentikan oleh supirnya dan kedudukannya akan digantikan oleh orang lain yang menurut sang supir lebih baik atau selamanya hanyalah sebagai kernet karena sang supir tidak pernah memberi kesempatan baginya untuk belajar mengemudi.

Mengingat pada waktu itu, Reti Sembiring Gurukinayan yang mempunyai cita-cita yang tinggi bagi dirinya dan untuk masa depannya serta keluarganya dikemudian hari, beliau berusaha menjadi kernek yang gigih, rajin dan disiplin dan  disayangi oleh supirnya serta mempunyai rasa memiliki. Karena khawatir suatu saat kemungkinnan akan diberhentikan oleh sang supir bila tidak rajin dan disiplin maka dalam melaksanakan tugasnya sebagai kernek bus beliau bekerja keras agar penghasilan dari setoran bus yang mereka operasikan bersama supirnya minimal dapat menghasilkan setoran yang layak dan wajar kepada pemilik bus. Akan tetapi tidak hanya masalah setoran yang jadi patokan bagi dirinya dalam melaksanakan pekerjaannya, tapi juga masalah perawatan bus pun menjadi perhatian utamanya, sehingga beliau juga berupaya untuk mengetahui seluk beluk mesin bus termasuk membersihkan bus di poolnya pada malam hari apabila selesai operasi pada pagi dan siang hari. Pada saat itu untuk dapat menjadi supir tidaklah semudah pada saat ini, pekerjaan sebagai supir sangat didambakan oleh banyak orang bagi mereka yang tidak mau melanjutkan sekolahnya ketingkat yang lebih tinggi, apalagi bagi seorang pemuda bernama Reti Sembiring Gurukinayan yang pada awalnya adalah seorang yang buta aksara sehingga tidak ada pilihan lain selain menjadi kernek dulu baru menjadi supir kemudian memiliki armada bus sendiri, cukup sederhana cita-citanya, sedangkan pekerjaan sebagai petani di kampung tidak ada dalam benaknya. 

Disamping itu pekerjaan sebagai supir sangat dihormati oleh masyarakat didaerah kelahirannya, dan tentunya juga menjadi idaman oleh para gadis untuk dapat dipersunting menjadi istri seorang supir. Didalam pikirannya, hanya  dengan jalan yang sedang dia tekuni inilah satu-satunya jalan bagi dirinya untuk mencapai masa depan yang lebih baik dikemudian hari. Apalagi beliau anak tertua dari 3 (tiga) bersaudara, maka seyogyanya dapat memberikan contoh atau panutan bagi saudara lainnya, hal ini berlaku umum di masyarakat Karo. Ada kepercayaan masyarakat Karo, apabila anak tertua berhasil atau sukses / memiliki pendidikan tertinggi maka dengan sendirinya adik-adiknya akan mengikutinya jejaknya, orang yang sukses didalam keluarga akan dengan sendirinya memiliki wibawa dan jadi panutan dibandingkan dengan yang tidak berhasil, terutama dihadapan saudaranya atau adik-adiknya.

Cita-cita seorang pemuda Reti Sembiring sebenarnya mungkin cukup sederhana bagi sebagian orang, apalagi tidak terlalu sulit untuk mencapainya, karena hanya dengan bermodalkan mau bekerja keras, tekun, disiplin dan mau berhemat serta mempunyai rasa memiliki maka kemungkinan besar akan dapat berhasil. Beliau sadar bahwa orang yang awalnya buta aksara maka beliau tidak mengimpikan cita-cita yang muluk-muluk, hanya satu keinginannya bahwa pada suatu saat dapat memiliki bus sendiri yang akan dia kemudikan sendiri dan dirawat sendiri agar biaya perawatannya akan semakin ringan. 

Oleh sebab itu, pada pada malam harinya setelah selesai membersihan bus yang menjadi tanggung jawabnya sehari-hari , beliau juga mencuci tidak hanya pakaiannya sendiri akan tetapi juga pakaian supirnya, walaupun    tidak pernah disuruh oleh supirnya yang memang bukan menjadi tanggung jawabnya sebagai kernek bus. Demikian juga diwaktu senggang beliau tidak lupa untuk belajar membaca, menulis dan berhitung secara otodidak sehingga akhirnya berhasil. Beliau tidak pernah mengikuti pendidikan formal karena situasi dan kondisi keluarga pada waktu itu tidak memungkinkan untuk mengikuti pendidikan formal dijaman penjajahan, apalagi sebagai anak tertua semasa kecilnya beliau juga harus ikut menggendong dan merawat adik-adiknya serta membantu ibunya di ladang.

Berastagi Di tahun 1947


Berastagi di tahun 1947

Bioskop dalam pembangunan oleh tukang kayu toko Bâtir & Co, Brastagi.
 
Cinema under construction by Batiren & Co Joinery Works
Bioscoop in aanbouw door timmermanswinkel Batiren & Co, Brastagi.

Penjual Garam

Penjual garam
Een zoutdrager van Karo-Batak afkomst, Noord-Sumatra
Date : 1914-1918
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Pa Samel, Penginjil Karo Pertama


Pa Samel, Penginjil Karo pertama, di Karo, Sumatera.
Pa Samel, de eerste Karo-evangelist, te Karo, Sumatra.
Date : 1914-1919
Author :  niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)

Anak dengan Simbol di Dahi


Anak dengan simbol sihir di dahi
Kind met een magisch teken op het voorhoofd voor bij het binnengaan van een huis bij een huiswijding
1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Sibajak Koetaboeloeh



Perayaan untuk Raja Sibajak Koetaboeloeh
Feestelijkheden bij de installatie van radja Sibajak Koetaboeloeh in de Karo-Bataklanden
Collectie: KITLV
Herkomst/Provenance: Voorhoeve, Dr P. / Barchem
Datum/Date: 1945

SIBAYAK LINGGA


Sibayak Lingga

Pria Karo (bagian 2)


 


Pria Karo
Een man van Karo-Batak afkomst, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)
 
Seorang pria keturunan Karo dengan anaknya, Sumatera Utara
Een man van Karo-Batak afkomst met zijn zoon, Noord-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown
 
Potret kepala desa, Karo Batak
Portret van een dorpshoofd, Karo-Batak
Date : 1900-1923
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
 
Sebuah kelompok asal Karo-Batak di kampung, North Sumatra Timur
Een groep van Karo-Batak afkomst in een kampong, Noordoost-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown
 
Penjual anjing
De Batak staan bekend als eters van hondenvlees.. Handelaar in honden (voor de slacht) te Karo, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Pria Karo (bagian 1)


 Pria Tua Karo
Date : 1904-1930
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)
 
Potret manusia Dataran Tinggi Karo
Portret van een Batak man, Karo-Hoogvlakte
 Date : voor/before 1916
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
 
Potret orang Batak-tua, Karolanden, Sumatra `s Pantai Timur
Portret van een oude Batak-man, Karolanden, Sumatra`s Oostkust
Date : 1920-1925
Author : niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).
 
Seorang pria keturunan Karo-Batak, Sumatera Utara
Een man van Karo-Batak afkomst, Noord-Sumatra
Date : unknown
Author : unknown

Seorang pria keturunan Karo-Batak, Sumatera Utara
Een man van Karo-Batak afkomst, Noord-Sumatra
Date : 1914-1926
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)

Tiga orang keturunan Batak Karo-Batak Karo, Sumatera Utara
Drie mannen van Karo-Batak afkomst in de Karo-Batak Landen, Noord-Sumatra
Date : 1914-1919
Author : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer)